Rabu, 18 Januari 2012

Empat Kebijakan Kemdikbud soal PAUD



1,399
 kali dilihat
12/12/2011 - 12:50:20
JAKARTA- Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menyampaikan empat kebijakan mengenai Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Menurutnya, kebijakan tersebut penting untuk menjamin akses dan mutu PAUD yang tumbuh diatas partisipasi masyarakat.

Ia mengatakan, hal pertama yang menjadi kebijakannya adalah penataan kelembagaan. Hal ini, katanya, penting dilakukan karena pemerintah hanya akan memberikan bantuan pada institusi PAUD yang resmi, dan jelas keberadaan, serta pelaksanaannya. Jika bantuan diberikan tanpa ada kejelasan status, kementerian khawatir hal itu akan memicu terjadinya penyimpangan.

"Kita harus membantu mekanisme penataan lembaga PAUD sesederhana mungkin. Lakukan penataan agar lembaganya menjadi resmi," kata Nuh seusai menghadiri Puncak Gebyar PAUD, Senin (12/12/2011), di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

Kebijakan kedua, lanjutnya, terkait tutor pendamping, dan guru TK yang berpartisipasi dalam proses belajar mengajar PAUD. Ke depannya akan diatur dalam Undang-Undang (UU) Guru dan Dosen.

"Apakah para tutor itu harus S1 atau D4? Maka harus disiapkan standarnya. Bukan sekadar dari kualifikasi pendidikan, tapi juga kompetensinya. Atau bisa juga cukup tamatan setingkat SMA tapi diberi pelatihan," ujarnya.

Ketiga, jelas Nuh, kebijakan yang terkait dengan konten, isi dan bahan ajar. Kurikulum PAUD jelas tidak sama dengan kurikulum yang ada pada pendidikan dasar. Ia memaparkan, esensi PAUD merupakan sambungan neuron-neuron synapse yang terdapat dalam sel otak. Jadi, menurutnya, sangat penting jika kegiatan dalam PAUD diisi dengan kegiatan yang merangsang reaksi fisik dan pengenalan lingkungan.

Nuh menegaskan, kurikulum PAUD harus ditata ulang. Sebab, PAUD bukan untuk memperkuat basis kognitif, tetapi lebih kepada menyiapkan sel-sel neuron dengan berbagai pergerakan fisik.

"Misalnya, kita ajarkan tentang Ketuhanan, dikenalkan juga dengan interaksi sosial, dan lain sebagainya. Bangun suasana belajar yang menyenangkan, tapi semua harus sesuai porsi dan keadaan, jika tidak nanti bisa stress," ungkapnya.

Kebijakan PAUD yang ke empat adalah ketersediaan sarana dan prasarana.

"Tidak harus membangun gedung, karena kelas-kelas PAUD hanya sekitar 10-20 anak di setiap kelasnya. Bisa menggunakan fasilitas umum seperti balai RT/RW,"  kata Nuh.
Sumber:
kompas.com, detik.com

Jumat, 13 Januari 2012

Manfaat Tidur Siang Bagi Balita


Balita kurang tidur siang cenderung cemas, stres dan mengalami gangguan mental saat dewasa

KAMIS, 5 JANUARI 2012, 10:57 WIB
Anda Nurlaila
Anak tidur (doc. Corbis)
VIVAnews - Di usia balita, anak menghabiskan waktu dengan mengeksplorasi segala sesuatu di sekitar mereka sehingga kerap kehilangan waktu tidur siang. Padahal, tidur siang memberi dampak luas pada pertumbuhan dan kesehatan mental anak.

Simpulan penelitian terbaru menyebut, balita yang tidak tidur siang atau kurang waktu tidur di siang hari lebih cenderung mengalami stres dan merasa tak bahagia. Anak-anak ini juga cenderung berisiko mengalami masalah kesehatan mental selama kehidupan mereka di masa dewasa.

Tim dari University of Colorado Boulder, AS menemukan, anak yang tidak tidur siang atau kekurangan tidur di siang hari lebih cemas dan cenderung tak tertarik pada sekeliling mereka. Mereka juga kurang senang dengan peristiwa bahagia dan lebih sulit mengatasi stres.

Penyebabnya, kehilangan waktu tidur siang membuat balita mengungkapkan perasaan dengan cara berbeda. Selama studi, mereka mengukur pola tidur balita berusia dua hingga tiga tahun. Anak-anak ini mengenakan alat khusus untuk mengukur berapa lama mereka tidur siang dengan pengawasan orang tua.

Penulis studi, Profesor Monique LeBourgeois mendokumentasikan ekspresi wajah balita di dua waktu berbeda saat balita memperoleh tidur siang, serta pada saat mereka kehilangan waktu tidur.

Hasil yang dipublikasikan dalam Journal of Sleep Research, menunjukkan bahwa balita yang lelah karena kurang tidur hanya berhasil menyelesaikan sepertiga (34 persen) puzzlepertama dengan respon emosional yang kurang positif dibandingkan saat mereka memperoleh cukup istirahat.

Dan, pada puzzle kedua yang sengaja dibuat 'tak dapat diselesaikan', balita yang lelah lebih tertekan daripada anak yang mendapat tidur siang seperti biasa. Lebih dari sepertiga balita yang kurang tidur juga lebih cuek daripada anak yang memperoleh tidur siang tentang puzzle yang tak dapat mereka pecahkan.

Prof LeBourgeois mengingatkan, bahwa 'kebingungan' bukan hal buruk, karena membantu anak-anak belajar dari kesalahan mereka. Kekurangan tidur membuat anak tidak mampu terlibat dan berinteraksi dengan orang lain. "Sama seperti gizi yang baik, tidur yang cukup merupakan kebutuhan dasar, " jelasnya.
• VIVAnews
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...